Tuesday, September 09, 2008

PERSAHABATAN INDONESIA JEPANG YANG STANDARD

Ada curhatan nih dari Aktivis KDRI yaitu bambumuda@gmail.com
Mohon disimak :p


Dengan hormat,

Mengetahui keberadaan kementerian desain republik indonesia dengan kegiatan dan sepak terjangnya,

Menimbang bahwa logo tahun persahabatan indonesia-jepang belum tampil secara optimal,

maka dengan ini kami melaporkan logo tersebut kepada yang berwajib.

Logo ini menurut hemat kami terkesan norak: politis, simbolis, namun mengabaikan konsep desain dan estetika. Tidak ada unsur sentuhan seni-budaya khas masing-masing negara di dalamnya. Bahasa utama yang digunakan pun adalah bahasa Inggris, yang tidak mewakili bahasa masing-masing negara.
Bapak GK dan RG yang menjadi ketua kehormatan dan ketua pelaksana kegiatan tahun persahabatan tentu terlalu sibuk sehingga tidak menyempatkan diri melakukan tinjauan khusus terhadap konsep desain dan estetika lambang ini.

Logo terlampir, juga dapat dilihat di:
http://www.id.emb-japan.go.jp/ijff_anvsr50_id.html
atau
http://www.indonesianembassy.jp/en/agenda-kegiatan/4795.html

Tampak bedanya bila dibandingkan dengan logo tahun persahabatan jerman-jepang 2005-2006, yang menurut hemat kami cukup kompak dan indah.
http://www.doitsu.com/doitsu/regierung/dbj/jp/deutschlandjahr/

Berdasarkan pengalaman Jerman-Jepang tersebut, kami mengusulkan agar menggunakan simbol semacam yin-yang putih-merah, di mana Sang Saka Merah-Putih terpadu dengan Hinomaru, saling menggenggam erat dan mendukung satu sama lain. Sementara angka tahun dibuat tegas seperti tarikan-tarikan kanji, apalagi kebetulan angka 5 dalam aksara kanji mirip dengan 5 romaji, terlampir sketsa perkiraannya.

Namun mungkin saja usulan kami ini juga masih terlalu kuno, jadul dan memaksa, maka dengan ini kami serahkan kewenangan kepada Bapak Menteri, staf KDRI berserta jaringan kerja seluruh Indonesia, saya mohon keputusannya, sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Doumo arigatou.

p(^o^)q -hyoutan
http://www.bambumuda.blogspot.com

1 Comment:

Erique Fat Owl said...

Menurut saya salah besar kalo pake yin-yang.

Jepang tidak pernah menggunakan simbol yin-yang dimanapun juga, dan secara historical, yin-yang itu asalnya dari Taoisme (China).

Walaupun filosofi Jepang sejak zaman dahulu juga sebagian mengambil dari konsep / pandangan Taoisme, tapi Jepang (apalagi di zaman modern gini) lebih suka untuk tidak mengasosiasikan yin-yang dalam lambang2 apapun disana. Soalnya yin-yang itu lebih lekat dengan kebudayaan China atau Korea (dimana taegukgi, atau yin-yang versi Korea itu merupakan simbol negara).

Jadi gw rasa salah besar kalo mengasosiasikan yin-yang terhadap Indonesia-Jepang, tak kira semodern apapun konsepnya. Walaupun sekarang banyak banget orang2 yang menganggap bahwa yin-yang adalah sebuah konsep universal (termasuk orang barat, dsb), namun gw rasa kalo mengasosiasikan yin-yang dengan Jepang atau Indonesia masih terlalu riskan - mengingat bahwa:

1. Kedua negara sebelumnya tidak pernah menggunakan simbol yin-yang untuk diidentikkan dengan hal2 kebangsaan ataupun folosofi umum masing2 negara

2. Yin-yang sudah erat dan identik dengan Taoisme di China, dan juga Negara Korea Selatan.

Seperti misalnya lambang bulan sabit-bintang itu lekat dengan konsep Islami dan lambang palu & sabit itu lekat dengan komunisme - gw rasa sebaiknya jangan asal pilih aja dalam menentukan simbol, salah2 bisa2 pada ribut.