Wednesday, September 17, 2008

BANDARA SWARNADWIPA

Aktivis KDRI makin menjadi!..Sudah makin kreatif dengan tidak hanya mengganti logo..tapi berimajinasi mengganti nama Bandara! Yez!


Halo Mas Menteri Desain RI yth,

Saya memberanikan diri untuk berinisiatif mengusulkan nama dan desain logo untuk bandara baru Medan yang berada di Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara yang sekarang sedang dibangun.

Usulan nama bandara baru di Medan yang saya sampaikan adalah Bandara Swarnadwipa yang dalam bahasa Sansekerta swarna berarti emas, dan dwipa adalah pulau. Sebelum nama Sumatera yang kita kenal dan pakai saat ini di mana Kota Medan terletak, dulu dikenal pula dengan nama Swarnadwipa, karena memang terkenal dengan hasil alam dan tambang yang melimpah, termasuk emas. Dengan demikian, nama Swarnadwipa diharapkan menjadi representasi kekayaan alam dan budaya masyarakat di Pulau Sumatera.


Kemudian usulan desain logo bandara mengambil bentuk rumah adat suku Batak, yang merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Sumatera Utara. Dengan warna-warna alami yang cerah, dan didominasi warna merah dan kuning, melambangkan kekayaan alam dan budaya Sumatera (khususnya Sumatera Utara), kedinamisan dan semangat hidup warga masyarakatnya sebagai bagian dari derap langkah perjuangan dan pembangunan bangsa Indonesia.


Dengan nama dan logo baru bagi bandara yang baru di Medan dan Sumatera Utara, diharapkan akan menjadi kebanggaan warga masyarakat setempat, dan secara positif mempengaruhi kinerja pelayanan dalam transportasi udara dan masyarakat pada umumnya secara positif dan berkelanjutan.


Gitu aja Mas, senang Anda membuka kesempatan bagi desainer2 ndeso untuk menampilkan karya amatiran ini.
Semoga bermanpaat.

God bless u
Tq

Hormat saya

Wong ndesonensis

kunjungi saya di www.mannusantara.blogspot.com

9 Comments:

arya said...

ndak setuju ah. namanya mirip sama svarnabhumi bangkok. jd kesannya niru.

Anonymous said...

klo gw denger siy, ada salah satu perush advertising dengan nama yg sama di bandung (swarna dwipa).. Temen2 dr bandung... tul ga?

tio said...

Kalo saya sich setuju banget sama usulnya si Wongndesonensis itu. Itu nunjukin identitas bangsa kita. Bukan asal tiru kayak commentnya si Arya. Itu ada sejarahnya Bung ! Mungkin si arya aja yang gak pernah belajar sejarah n so pasti penilaiannya asbun.
Trus kalo penilaiannya si Mr X tgl 23/09 juga sama asbunnya. Ini bukan bikin perush adv skala mikro di bdg sono Bung ! Ini bikin bandara yang jadi pintu masuk suatu negara gitcu loooh! Kalo nurut rumus Mr X, gimana kalo grup Harapan Jaya yang terang2an ngaku dapat inspirasi dari Bus malem jurusan Blitar-Jkt???!! Gak fair dooonk! Tanya kenapa ke lo sendiri!

Erique Fat Owl said...

Gw rasa walaupun konteks sejarahnya memang ada (atau nggak ada - nggak masalah), teteupp aja Swarnadwipa itu mirip Suvarnabhumi. Artinyapun mirip2, cuma kalo dwipa itu pulau, bhumi itu tanah (land).

tetep aja kesannya niru. Kayak ga ada nama lain aja. Gw rasa masih banyak nama2 lain yang bisa dipake, yang secara sejarah signifikan, juga cantik dan indah didengar...

Gini deh analoginya...

Misalnya Indonesia bikin airport namanya "Batik". Trus 3 tahun lagi, Malaysia buka airport baru, namanya "Songket". Dua2nya senada, jenis tekstil juga. Apa kita nggak ngerasa kalo Malaysia (lagi2) nyuri2 konsep dari kita? Emangnya kayak nggak ada nama lain aja apa? Gitu...

Pasalnya walaupun di Malaysia juga ada Songket, dan mereka pantas menamai bandara mereka bandara songket, tapi songket juga kan bagian dari budaya Indonesia. Jadi pasti banyak yang nuding malaysia nyolong lagi.

Bahwasannya, Suvarnabhumi dan Suvarnadvipa itu memang secara mitologi ada koneksinya - dua2nya itu ibarat 'el dorado'-nya Asia tenggara. Sampai sekarang nggak ada yang tahu letak pasti Suvarnabhumi dan Suvarnadvipa itu - ada yang bilang di semenanjung melayu & Jawa, ada yang bilang di Indocina atau bahkan india.

Penamaan airport dengan nama ber-suvarna itu memang PAS, BAGUS, dan COCOK, sebab airport itu kan melambangkan kemajuan negara - mitos negri emas itu pas banget kan untuk melambangkan kemakmuran, TAPIII....udah keduluan sama Thailand diambil nama / konsep itu, dijadiin nama airport.

Bukan berarti kalo Indonesia nggak boleh namain apa2 dengan "kembarannya" suvarnabhumi, yaitu suvarnadvipa - tapi mbok ya jangan airport juga, gitu loh. Museum, stasiun, gedung, apa kek gak masalah, tapi kalo nama airport juga, WALAUPUN kita sebenernya berhak ngasih nama itu, tapi kesannya meniru2 konsep penamaan yang dicetuskan Thailand.

Bayangin kalo lo jadi orang Thailand, pasti sedikit banyak tersinggung juga kalo ada airport di negara tetangga yang namanya nyolong konsep dari Suvarnabhumi. Pasti kan orang sana bingung, ini maksudnya mau menjalin kerjasama antara 2 airport atau mempererat hubungan Bangkok - Medan atau apa?

Apalagi yang ngasih nama "Suvarnabhumi Airport" itu adalah YM Raja Bhumibol Adulyadej - figur yang amat sangat dihormati dan dicintai secara sangat fanatik dan universal di Thailand - bisa2 mereka ngamuk kalo ada yang nyontoh konsep yang sudah dititahkan oleh Raja mereka - apalagi kalo yang ngasih nama "suvarnadvipa" or swarnadwipa itu BUKAN darah biru alias monarki yang sebanding derajatnya dengan YM Raja Bhumibol. Gw rasa pasti kacaw deh kita diprotes.

Ini hal yang sangat sensitif - penamaan suatu landmark itu harus sangat hati2 dan diusahakan jangan sampai menyinggung siapa2. Apalagi Medan kan kota yang lumayan high profile.

Menurut gw sih gitu...

Jadi, kesimpulannya, kita BERHAK buat namain Swarnadwipa, tapi kayaknya UDAH TELAT, keduluan Thailand.

bonyok said...

Keren banget karya logo si wong ndesonensis itu. Baru usulan udah memunculkan debat polemik, bukan usulan desainnya, tapi usulan namanya. Aku sih netral, tapi kalo dicermati, desain si wongndeso itu cukup berani, seperti kata pak mentri. Mengubah dan menyodorkan nama baru yang kontekstual.
Tapi aku ngeliat dari komen2 sebelumnya, adalah ekspresi inferioritas (rendah diri) bangsa dalam menunjukkan identitasnya, Belum2 udah dibilang meniru, aduuuh itu gak baik lho buat perkembangan kreativitas bangsa kita. Siapa lagi yang bela identitas bangsa kalo bukan kita sendiri aplg yg muda2.
Biarkan Thailand dgn Svarnabhuminya, toh mereka pun punya nilai sejarahnya sendiri. Kita juga jelas punya Swarnadwipa yg punya arti historis sejak Sriwijaya, dan dengan bangga menampilkannya.
Nah kalo ada buah durian bangkok padahal aslinya dari Ciomas Bogor, itu baru boleh dibilang meniru, memalsu malah. Gimana komentarnya Pak Mentri nih?

bnrdesign said...

logonya bagus sih,
sori bukan bermaksud rasis
cuma knp kok namanya "jawa" banget
dan itu (misalnya) akan diusulkan untuk dijadiin nama bandara di medan ?

hmmm ....

kayaknya nanti bakal lebih banyak orang sana naik mobil sibual buali ketimbang naek pesawat

kafe-sophie said...

Rum Muhammad wrote:
Kalau saya sih setuju aja dengan usulan nama Svarnadwipa. sebagaimana yang kita ketahui bahwa budaya di Asia Tenggara, khususnya sebelum kedatangan islam, jelas merupakan bagian dari Indianized World. dari jawa di selatan (Javadwipa), svarnadwipa, Baganmyo di Barat (myanmar sekarang), dan sebagian besar wilayah mainland southeast asia di angkor empire (termasuk thailand, cambodia, laos).

jadi budaya itu, adalah identitas yang satu. itu sebab banyak scholar bepergian dari satu negara ke negara lain. ya seperti di eropa lah, mereka dulu sistem politiknya cair, borderless malah (karena menganut sistem mandala circle). nah artinya, orang gak bisa dong mengklaim; "eh ini trademark gw! lo jangan ambil". karena dahulu kala, telah terjadi regionalisasi (contoh sekarang seperti di Uni Eropa tuh), yaitu kesatuan regional (kecuali vietnam, karena masuk dalam sinicized world - tributary China).

kalau mau "rebutan" budaya seperti kata Erik, maka itu alasan gak berdasar. karena arsitektur buddhist di thailand, dulunya mula dikembangkan di Srivijaya. karena wilayah Srivijaya juga mencakup sebagian Thailand, dan juga banyak scholar Thai juga menuntut ilmu ke universitas di Srivijaya, maka diterapkan pula di sana.

so, jangan dipersoalkan lagi soal budaya ini karena Asia Tenggara ini keseluruhannya bermula dari satu kesadaran regional.

dan gak marah kok orang thailand sama kita, justru semakin banyak persamaan itu akan mengakselerasikan kembali ASEAN bersatu. kita jadi seperti ini kan gara2 penjajahan dulu. celakalah para penjajah!!! (ini kutukan)

kafe-sophie said...

Dan yang saya gak habis pikir;
buat apa orang-orang Thai bakal protes penggunaan nama Svanadwipa?
tidak ada korelasi langsung dengan kepentingan mereka.

Hubungan antara Raja2 Thailand dari Dinasti Chakri pun baik-baik kok sama Indonesia, justru seneng lihat banyak persamaan antara budaya mereka dengan apa yang mereka lihat di sini. itu sebab saat Chulalangkorn datang studi banding ke Jawa dia seneng banget. nah kenang2 beliau itu ya patung Gajah yang sekarang di pajang di depan museum nasional itu.

viva ASEAN bersatu lah pokoknya !!!

homo sapien said...

coba kalian baca di wikipedia atau referensi lain dech, swarnadwipa itu sama dengan swarnabhumi, orang thailand aja yang asal comot tuch nama,sama seperti yang dilakukan oleh bangsa malaysia yan durhaka yang mencomot kebudayaan nenek moyang mereka (sumatera)