Sunday, January 06, 2008

CORAT CORET ERA SMU

Pemikiran baru dari sukarelawan KDRI nih...

Mas Gembol yth,

Nama saya: Robert Winaryo
Email: bhotoes@gmail.com
Domisili di Jakarta

saya mau ikut urun ide neh! harap dimaklum kalo gambarnya kurang oke, soalnya amatiran & bukan dari background desain. uraiannya udah berusaha saya tulis seringkas mungkin. kalo masih kurang ringkas dan tata bahasanya kurang pas, silakan diedit lagi. kalo mau ditambah-tambah juga boleh :)
SEBELUM

Saat pengumuman kelulusan sekolah, masih ada tradisi mencoret-coret seragam sekolah. Sementara di sisi lain, masih banyak pelajar-pelajar kita yang masih kesulitan membeli baju seragam dan juga bersekolah tanpa seragam sekolah yang layak. Pengalaman saya pribadi, baju sekolah yang telah dicoret-coret nasibnya cuma disimpan di lemari dan 1 tahun kemudian akhirnya berubah fungsi jadi kain lap karena warna putihnya sudah jadi kekuning-kuningan dan kusam.

SESUDAH

Idenya adalah mengalihkan tradisi coret-coret di baju seragam sekolah ke media lain. Dalam hal ini ke dinding tembok pagar sekolah bagian dalam atau dinding kelas bagian luar pada sekolah-sekolah yang tidak dipagar tembok.
Konsepnya dengan menyediakan satu ruang terbatas pada sebagian tembok dengan cara diberi cat warna putih sebagai media coret-coret para lulusan. Bagian dinding tembok sisanya kemudian digunakan sebagai ruang untuk kreasi lukisan dinding (mural) para siswa.
  1. Sekitar 1 bulan sebelum pengumuman kelulusan, bagian dinding yang sudah ditetapkan sebagai media coret-coret dicat warna putih. Sisanya diberi batas-batas untuk ruang mural.

  2. Agar tidak mengganggu aktivitas siswa tingkat akhir yang biasanya padat menjelang kelulusan, untuk mengisi ruang mural bisa diberikan kesempatan kepada para adik kelas dan dikerjakan pada hari minggu atau hari libur agar tidak menganggu kegiatan belajar mengajar.

  3. Ruang mural untuk masing-masing kelas tidak bisa dipilih semaunya. Agar lebih adil sebaiknya diadakan pengundian.

  4. Bila luas dinding tembok terbatas, bisa dilakukan giliran tiap tahun atau diadakan sayembara antar kelas untuk menentukan siapa yang berhak melukis mural. Masing-masing kelas mengajukan rancangan yang nantinya akan dipilih beberapa yang berhak oleh satu tim yang independen, misalnya terdiri dari wakil kepsek, guru kesenian, guru BP, wakil ortu, dsb.

  5. Mural adik kelas tidak boleh melanggar bagian yang sudah bercat putih dan para lulusan nantinya hanya boleh mencoret-coret bagian tembok yang bercat putih. Ini sekaligus sebagai pembelajaran untuk saling menghargai dan menghormati tanpa memandang status senior junior.

  6. Di tahun ajaran berikutnya, 1 bulan sebelum pengumuman kelulusan dinding tembok kembali "disterilkan". ruang coret-coret kembali dicat putih dan ruang mural dibersihkan untuk kreasi adik kelas berikutnya. Jadi secara efektif, coret-coret para lulusan dan lukisan mural punya 'masa tayang' sekitar 11 bulanan. Cukup banyak waktu untuk kemudian dilakukan penggantian dan penyegaran.
Jika ini bisa terus berlanjut, maka tak perlu ada lagi tradisi coret-coret baju seragam yang cuma memberi kesenangan sesaat dan tak bermanfaat. Dengan kegiatan ini lingkungan sekolah bisa lebih 'hidup', jiwa seni siswa bisa dipupuk & dikembangkan, ada nuansa kompetisi yang positif karena masing-masing akan berlomba menampilkan yang terbaik sekaligus menantang kreatifitas siswa sekaligus sampai adik-adik kelas tahun berikutnya, melatih kerjasama, sifat saling menghargai dan menghormati, dll.

Akhirnya, baju seragam sekolah yang tidak digunakan lagi bisa dikoordinasi untuk dikumpulkan dan disalurkan kepada yang membutuhkan lewat kegiatan sosial sekolah atau melalui pihak ketiga, seperti badan-badan sosial, dsb.

thanx,

7 Comments:

Raffaell said...

Wuih, ide yang keren, tapi biasanya anak muda sekarang lebih senang nulis nama geng nya ketimbang ngambar

itonx said...

aih..aih... sunggung mulianya idenya.. :)
*yang teringat bbrp th lalu mencoret2 baju om Gembol.. :p*

imoel said...

Keren idenya...

Btw, dulu waktu gw tamat smu, juga disuruh gini ama gurunya, nyumbangin baju, jangan di corat - coret. Tapi tetep aja, namanya darah muda, bukan cuma baju yg dicoret, malah jalanan juga ikut jadi korban.

rendy said...

gw setuju bagian sumbang menyumbangnya,
tapi kayaknya ga mungkin deh anak sma dilarang buat coret2 baju. kayaknya ga seru lulus2an tanpa corat coret baju, hehe. kalo mau corat coret, pilih baju yg udah paling jelek aja, sisanya disumbangin. tujuan utama coret2an kan buat kenang2an, baju yg udah dicoret2 bisa disimpen sampe tua. trus biasanya pas coret2an pasti ada yang bawa kamera juga, jadi foto2 ini juga bisa jadi kenang2an nantinya.

kalo cuma corat coret di tembok, kayaknya rasanya hampir sama kayak buat mading doang deh..ditambah lagi ga semua anak kan kreatif dalam gravity, paling mentok2nya cuma 2-3 orang perwakilan perkelas..

Anonymous said...

Ini baru bagus pak GEMBOL,satu2nya yang paling baik di seluruh site ini...hebat pak.

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
seragam tk www.bajuseragamtk.com said...

baju karnaval baju profesi anak